Drama

Mata Pelajaran                 : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester                 : IX/I

Pertemuan Ke                  : 7 (Tujuh)

Alokasi Waktu                 : 2 x 45 menit

 

Tujuan Pembelajaran :

  1. Mendata alur, konfliks, penokohan, dan hal yang menarik dalam drama yang dipentaskan.
  2. Memerankan salah satu tokoh dalam naskah drama yang dibaca sesuai dengan watak tokoh tersebut.
  3. Memberi tanggapan, serta memperbaiki hasil kerja dalam diskusi kelas

Pengertian

Drama berasal dari kata Yunani, yaitu draomai yang berarti berbuat, bertindak, bereaksi, dan sebagainya. Jadi, kata drama dapat diartikan sebagai perbuatan atau tindakan.

Secara umum, pengertian drama adalah karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dengan maksud dipertunjukkan oleh aktor. Pementasan naskah drama dikenal dengan istilah teater. Dapat dikatakan bahwa drama berupa cerita yang diperagakan para pemain di panggung.

Jenis Drama

Berdasarkan penyajian lakon, drama dapat dibedakan menjadi delapan jenis, yaitu:

  1. Tragedi: drama yang penuh dengan kesedihan
  2. Komedi: drama penggeli hati yang penuh dengan kelucuan.
  3. Tragekomedi: perpaduan antara drama tragedi dan komedi.
  4. Opera: drama yang dialognya dinyanyikan dengan diiringi musik.
  5. Melodrama: drama yang dialognya diucapkan dengan diiringi melodi/musik.
  6. Farce: drama yang menyerupai dagelan, tetapi tidak sepenuhnya dagelan.Tablo: jenis drama yang mengutamakan gerak, para pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakan-gerakan.
  7. Sendratari: gabungan antara seni drama dan seni tari.

Berdasarkan sarana pementasannya, pembagian jenis drama dibagi antara lain:

  1. Drama Panggung: drama yang dimainkan oleh para aktor dipanggung.
  2. Drama Radio: drama radio tidak bisa dilihat dan diraba, tetapi hanya bisa didengarkan oleh penikmat.
  3. Drama Televisi: hampir sama dengan drama panggung, hanya bedanya drama televisi tak dapat diraba.
  4. Drama Film: drama film menggunakan layar lebar dan biasanya dipertunjukkan di bioskop.
  5. Drama Wayang: drama yang diiringi pegelaran wayang.
  6. Drama Boneka: para tokoh drama digambarkan dengan boneka yang dimainkan oleh beberapa orang.

Jenis drama selanjutnya adalah, berdasarkan ada atau tidaknya naskah drama.     Pembagian   jenis drama berdasarkan ini, antara lain:

  1. Drama Tradisional: tontonan drama yang tidak menggunakan naskah.
  2. Drama Modern: tontonan drama menggunakan naskah.

Unsur-unsur Intrinsik Teks Drama

  1. Plot atau kerangka cerita, merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang

Unsur-unsur plot dijelaskan di bawah ini.

  • Pelukisan awal cerita.
  • Komplikasi atau pertikaian awal.
  • Klimaks atau titik puncak cerita.
  • Resolusi atau penyelesaian.

Plot atau kerangka cerita drama ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut.

  1. Sirkuler, artinya cerita berkisar pada satu peristiwa saja.
  2. Linier, artinya cerita bergerak secara berurutan dari A-Z.
  3. Episodik, yaitu jalinan cerita itu terpisah, kemudian bertemu pada akhir cerita.
  4. Penokohan atau perwatakan, yaitu orang yang berperan dalam drama.

     Perwatakan penokohan dapat dibedakan menjadi berikut ini.

  1. Protagonis, yaitu tokoh yang mendukung cerita.
  2. Antagonis, yaitu tokoh yang menentang cerita.
  3. Tritagonis, yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis maupun antagonis

Dialog, yaitu percakapan dalam drama. Dalam drama, dialog harus

memenuhi dua tuntutan berikut ini.

  1. Dialog harus menunjang gerak dan laku tokohnya.
  2. Dialog dalam pentas harus lebih tajam daripada dialog sehari-hari.
  3. Setting/landasan/tempat kejadian cerita biasanya disebut juga latar cerita.

      Setting biasanya mencakup hal-hal berikut.

  1. Setting tempat berhubungan dengan ruang waktu, misalnya di Jawa dan tahun
  2. Setting waktu berarti apakah lakon terjadi di waktu siang, sore, atau malam hari.
  3. Tema atau nada dasar cerita merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama.
  4. Amanat atau pesan pengarang yang hendak disampaikan pengarang melalui dramanya harus dicari oleh pembaca atau penonton. Amanat adalah maksud yang terkandung dalam suatu drama.

Struktur teks atau naskah drama

Sebelum kamu menulis naskah drama perlu dipahami terlebih dahulu struktur yang membangun naskah drama. Menurut Herman J. Waluyo, struktur naskah drama itu meliputi:

  1. Plot/alur

Plot atau kerangka cerita, yaitu jalinan cerita atau kerangka cerita dari awal hingga akhir yang   merupakan jalinan konflik antara dua tokoh atau lebih yang saling berlawanan.

  1. Penokohan dan perwatakan

Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Penokohan merupakan susunan tokoh-tokoh yang berperan dalam drama. Tokoh-tokoh itu selanjutnya akan dijelaskan keadaan fisik dan psikisnya sehingga akan memiliki watak atau karakter yang berbeda-beda.

  1. Dialog (percakapan)

Ciri khas naskah drama adalah naskah iru berbentuk percapan atau dialog. Dialog dalam naskah drama berupa ragam bahasa yang komunikatif sebagai tiruan bahasa sehari-hari bukan ragam bahasa tulis.

  1. Seting (tempat, waktu dan suasana) Setting disebut juga latar cerita yaitu penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya sebuah cerita.
  2. Tema (dasar cerita)

Tema merupakan gagasan pokok yang mendasari sebuah cerita dalam drama. Tema dikembangkan melalui alur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokoh antagonis dan protagonis dengan perwatakan yang berlawanan sehingga memungkinkan munculnya konflik di anatara keduanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *